Halo Semuanya!
Ini adalah post terakhir saya di blogspot. Selanjutnya, saya tidak akan lagi menggunakan igeaaa.blogspot.com sebagai media saya melukis abjad. Yang masih penasaran membaca buah pikir saya, silahkan klik alamat igeacitta.wordpress.com
A B C D E
mencatat ide. membagi harapan. memamerkan keseharian.
Minggu, 06 November 2011
Sabtu, 24 September 2011
Menjadi Saya

Tidak mudah menjadi saya. Begitupun menjadi kamu. Realita tidak selalu seiya sekata dengan kemauan saya. Dengan keinginan kamu. Saya kenal betul kebahagiaan saya, kegagalan saya. Dan kamu pun tentu memahami sepenuhnya tujuanmu, kesedihanmu. Namun ketika angka satu bersanding dengan angka lima menghambat pendapat yang telah lama tertambat, rencana saya, cita - cita kamu, semuanya menguap.
Saya hanya ingin merancang hari - hari yang akan saya jalani di masa saya berkepala dua kala mereka belum mengetahui nantinya ingin jadi siapa. Saya sudah meraba - raba cukup lama dan hanya tidak ingin membuang detik-detik berharga dengan mengusahakan hal - hal yang saya tahu persis, bukan bidang saya. Sayangnya dunia tidak berada selalu berada di sebelah kanan. Saya (sedang) menjadi oposisi diri sendiri.
Menjadi saya adalah ajang uji coba. Sejauh mana saya mampu mengendalikan pertandingan antara keinginan melawan kenyataan. Seberapa lama saya sanggup menyeimbangkan harapan versus jalan suratan. Setinggi apa saya bisa menerbangkan angan - angan dan setegar apa ketika akhirnya angin takdir menghempaskan saya hingga ke palung terdalam. Kini saya hanya perlu katalis waktu. Agar semua terasa cepat berlalu. Saya tidak peduli opini orang mengenai saya yang tidak menikmati. Saya memilih untuk menjadi emas. Diam, tanpa banyak kata.
Dan menjadi saya bukan bentuk egoisme. Menjadi saya adalah hak setiap manusia.
Kamis, 25 Agustus 2011
Kamu dan Masa Depanmu
"Kamu nanti kuliah mau ambil apa?" "Kedokteran, insyaallah. Dari kecil emang udah jadi cita - cita sih"
"Kamu udah ada bayangan lulus SMA mau kuliah apa?" "Kedokteran deh kayaknya. Ortuku bilang kedokteran aja biar gampang ntar kalau mau kerja. Bisa praktik sendiri, jadi mandiri gitu"
"Kamu kuliah mau kedokteran juga? Pingin dimana?" "Iya. Aku sih dimana aja nggak masalah. Yang penting kalau ditanya kuliah dimana, jawab kedokteran kan kelihatan anak pinter."
Dialog yang pertama adalah antara saya dan teman baik saya. Yang kedua dengan seorang teman lama. Dialog yang ketiga adalah cerita dari teman saya. Terbukti, dimana - mana, dari siapa saja, berdasar pengalaman saya, di percakapan mengenai dunia perkuliahan kedokteran adalah bidang dengan jumlah peminat terbesar. Belum pernah saya dengar lebih dari satu orang menyatakan keinginannya untuk mendalami bidang yang sama seperti Dian Sastrowardoyo, yaitu, filsafat, untuk mengisi hari - harinya selama empat tahun menjadi mahasiswa. Jarang saya membaca berita bahwa peminat jurusan pertanian, peternakan, perikanan, kehutanan mengalami peningkatan. Trennya cenderung menurun malah. Pengetahuan anak - anak kelas tiga SMA mengenai bidang - bidang yang tersedia masih terbatas kedokteran, ekonomi akuntansi, ekonomi manajemen, teknik sipil, teknik industri, hubungan internasional, ilmu komunikasi, psikologi, teknik informatika dan sastra inggris.
Well, wajar memang. Berbagai pertimbangan dan pilihan masing - masing orang membuat ilmu ekonomi-yang dulu disebut ekonomi pembangunan-, sosiologi, filsafat, bidang-bidang sastra: sasta indonesia, sastra jawa, sastra korea, arkeologi, teknik metalurgi dan material termasuk kategori yang tidak populer. Persepsi lama yang masih tertanam kuat di benak - benak generasi tahun 50an, kedokteraan adalah simbol kebanggan. Menjadi dokter sama dengan hidup sejahtera. Padahal, jika diperhatikan, zaman sudah benar - benar telah berubah. Mereka yang berpenghasilan besar didominasi oleh orang - orang teknologi; Mark Zuckerberg, Steve Jobs, Bill Gates. Nama pemain sepak bola macam David Beckham, ratu talk show Oprah Winfrey, penulis cerdas J.K. Rowling juga masih belum angkat kaki dari peringkat orang - orang terkaya di dunia. Ada salah satu dari enam nama yang saya tulis berprofesi sebagai dokter? Tidak.
Opini saya, kuliah tidak bisa dijadikan ajang coba - coba. Menentukan jurusan perlu kombinasi yang tepat antara minat si calon mahasiswa, pengertian orangtua dan tentunya, pertimbangan biaya. Sebenarnya di era yang sungguh terbuka ini, segala macam informasi tentang jurusan-jurusan yang sejauh ini belum diketahui bisa didapat dari googling, membaca kisah - kisah inspiratif berbagai orang dengan latar belakang pendidikan yang variatif, dan aktif bertanya kepada yang memang sudah terjun di bidangnya. Jika masih belum menemukan apa yang kita sukai, coba lihat hal - hal kecil yang selama ini tidak kita sadari. Mana yang lebih nyaman? Berbicara di depan banyak orang atau menulis konsep di balik layar? Mana yang lebih tinggi? Nilai ulangan biologi atau ujian geografi? Mana yang lebih menyenangkan? Mendengar penjelasan rangkaian listrik paralel atau story telling guru bahasa inggris? Mana yang lebih mudah? Bermain dengan angka atau berimajinasi dengan kata-kata?
Setelah 12 tahun menyelesaikan lika - liku persekolahan, saya pikir, sudah saatnya kita tidak lagi membohongi diri kita sendiri dalam mengambil keputusan hanya demi membahagiakan orang lain. Memang dibutuhkan komitmen dan keberanian untuk meyakinkan bapak ibu kita jika mendalami alam desain interior, menyelami dunia fashion design, menjadi master chef, berkarir sebagai sutradara, berprofesi sebagai ahli statistika, bekerja di panti anak penyandang cacat ganda adalah pilihan - pilihan yang sesuai dengan keinginan kita. Tidak mudah, memang. Harus ada hasil yang bisa kita buktikan kepada orang tua sebagai pembayar uang kuliah bahwa proposal yang kita perjuangkan bukan omong kosong belaka. Akan ada uang bulanan yang nantinya akan menghidupi kebutuhan kita sehingga tidak lagi menyusahkan orang tua yang kini bukan lagi pasangan muda.
Sebenarnya, menurut saya, apapun profesinya, asal kita berhasil menjadi ahli didalamnya, pekerjaan yang akan mencari kita. Apabila ada yang berdalih dengan sempitnya lowongan pekerjaan yang kita minati, saya akan jawab "kenapa bukan kamu yang menciptakaan lapangan pekerjaan?" Sekali lagi, memang tidak mudah. Tetapi resep kemauan, kerja keras dan doa masih selalu menjadi moto orang - orang yang kelebihan uang kok.
Harapan saya, apapun profesinya, seberapapun aset-aset materiilnya, jika masih ingin mengejar impian dan menggapai prestise dengan menyandang gelar sarjana kedokteran, jadilah dokter - dokter yang membuka praktik gratis bagi 60 juta rakyat kita yang belum mampu memprioritaskan kesehatan di anggaran bulanan.
Jika bercita - cita menjadi the next Mark Zuckerberg, donasikan 2,5 % persen dari keuntungan Anda untuk perbaikan gedung - gedung sekolah di pelbagai daerah pelosok zamrud khatulistiwa.
Jika memiliki mimpi berkarir di jalur penegakan hukum, bahagiakan rakyat dengan keadilan - keadilan yang kalian tegakkan.
Dan kalaupun nasib menakdirkan kita menjadi manajer pemasaran, pegawai pemerintahan, guru sd, ibu rumah tangga, bahkan penggangguran yang sedang mencari pekerjaan tetaplah menjadi orang yang membawa atmosfir positif inspiratif bagi orang - orang terdekat.
"to me, success is happy in what you do"
Jogjakarta, di atas yamaha Clavinova.
*coba deh buat yang belum pernah nonton, nonton aja 3 IDIOT. film bolywood satu ini berhubungan banget sama topik ini (:
Rabu, 24 Agustus 2011
UNTUK ANAK INDONESIA
Mungkin saya, pembaca belum mampu berpartisipasi mensukseskan program vaksinasi bagi 4,7 anak Indonesia secara material dengan jumlah masif. Namun, kita bisa mengguggah hati siapapun yang bisa membantu melalui donasi mulai dengan menyebarkan video ini, mengajak orang terdekat - terdekat untuk menyumbangkan beberapa rupiahnya, menyadarkan pentingnya vaksinasi bagi anak sebagai investasi kesehatan paling dasar kepada sekitar, yang akan membawa dampak jangka panjang di masa mendatang.
Sekecil apapun dan sesederahana apapun bentuknya, mari berkontribusi, mari
berpartisipasi.
Informasi lebih lanjut : UNICEF INDONESIA
Tentang Menangis
Bukan, ia bukan pribadi yang cengeng. Ia mengalirkan sungai kecil dari kedua bola mata coklatnya karena kata - kata tak lagi membantunya mengeluarkan kelu hatinya. Terkadang air mata adalah bahasanya.
Tidak, tidak berarti ia rapuh. Jangan menuduh. Air mata bukan simbol kenelangsaan. Penyegar mata ini adalah pertanda kemanusiaan, kelegaan, ketidaksempurnaan.
Bukan, ia bukan tidak bisa dimengerti. Ia menangis karena sedang mencari kenyamanan atas dirinya sendiri. Ia hanya ingin melepaskan beban yang selama ini ia simpan. Menutup secara normal kekuatan yang selama ini ia pertahankan.
Tidak, tidak adil bila ia dicap berlebihan. Menangis kadang kala datang dari ingatan akan berharganya pengalaman yang ia dapatkan. Bulir - bulir cair merupakan proses alamiah. Bagian dari psikologis perkembangan dunianya.
Bukan, ia berbeda dengan mereka yang manja. Derai air mata menolongnya untuk bangkit kembali, bukan untuk mengemis kemurahan nurani.
Tidak, ia tidak perlu dihujani dengan frase - frase pelipur duka. Ia perlu seseorang yang sanggup mengapresiasi biru perasannya. Bukan menghakiminya. Bahkan satu pelukan erat hangat akan jauh lebih bermanfaat.
Bukan, ia bukan menyerah kepada keadaan. Turunnya air dari indra penglihatan merupakan suatu format pelepasan. Bukan lambaian bendera putih atas cobaan yang sedang menaik-turunkan garis perjalanan seorang perempuan.
Tidak, ia tidak sedang bertindak bodoh. Ia sedang bersikap apa adanya. Tidak melawan dorongan dari kantung air mata yang telah kehabisan ruang untuk menampung.
Jangan kau tambah kekecewaan nurani si pemilik hati.
Jangan kau hakimi derai bulir - bulir cair yang mengalir.
Jangan kau koyak kepercayaan dirinya.
Jangan kau perbesar laranya.
Bayangkan kalau engkau jadi dia, apa kau mau terima perlakuan serupa?
Tidak, tidak berarti ia rapuh. Jangan menuduh. Air mata bukan simbol kenelangsaan. Penyegar mata ini adalah pertanda kemanusiaan, kelegaan, ketidaksempurnaan.
Bukan, ia bukan tidak bisa dimengerti. Ia menangis karena sedang mencari kenyamanan atas dirinya sendiri. Ia hanya ingin melepaskan beban yang selama ini ia simpan. Menutup secara normal kekuatan yang selama ini ia pertahankan.
Tidak, tidak adil bila ia dicap berlebihan. Menangis kadang kala datang dari ingatan akan berharganya pengalaman yang ia dapatkan. Bulir - bulir cair merupakan proses alamiah. Bagian dari psikologis perkembangan dunianya.
Bukan, ia berbeda dengan mereka yang manja. Derai air mata menolongnya untuk bangkit kembali, bukan untuk mengemis kemurahan nurani.
Tidak, ia tidak perlu dihujani dengan frase - frase pelipur duka. Ia perlu seseorang yang sanggup mengapresiasi biru perasannya. Bukan menghakiminya. Bahkan satu pelukan erat hangat akan jauh lebih bermanfaat.
Bukan, ia bukan menyerah kepada keadaan. Turunnya air dari indra penglihatan merupakan suatu format pelepasan. Bukan lambaian bendera putih atas cobaan yang sedang menaik-turunkan garis perjalanan seorang perempuan.
Tidak, ia tidak sedang bertindak bodoh. Ia sedang bersikap apa adanya. Tidak melawan dorongan dari kantung air mata yang telah kehabisan ruang untuk menampung.
Jangan kau tambah kekecewaan nurani si pemilik hati.
Jangan kau hakimi derai bulir - bulir cair yang mengalir.
Jangan kau koyak kepercayaan dirinya.
Jangan kau perbesar laranya.
Bayangkan kalau engkau jadi dia, apa kau mau terima perlakuan serupa?
Jumat, 19 Agustus 2011
Saya dan Matematika
Matematika menjadi salah satu ujian terberat dalam hidup persekolahan saya. Semenjak angka-angka mulai ditemani oleh para alfabet mulai dari A sampai Z yang lebih didominasi oleh X dan Y, saya semakin tidak bersahabat dengan ilmu eksak yang satu ini. Entah mengapa. Saya tak tau sebabnya pastinya. Saya pernah dan selalu akan berusaha menaklukan mata pelajaran yang cerdiknya luarbiasa. Saya pikir, aljebra mengasyikkan kok. Mungkin trigonometri dan integral lah yang kemudian membuat saya sadar, 'matematika saya parah banget ya?'
Ditambah lagi banyak teman-teman di sekitar dengan mudah mendapat nilai sempurna di ulangan matematika. Angka 100 terpatri indah di atas kertas ujian mereka. Hasil 70 untuk saya sudah merupakan pencapaian tingkat dewa. Asal tidak remidi, saya akan menjadi murid IPA paling bahagia sedunia.
Tapi, selarut apa saya belajar, sejauh mana saya review soal yang disampaikan oleh Bapak Hamzah, saya memang sepertinya belum atau tidak akan berjodoh dengan materi yang menjadi jantung ilmu alam. Sialnya lagi, semua berkaitan dengan matematika. Akhirnya pun fisika dan kimia terkena imbasnya. Ketidakcocokan saya dengan simbol kegeniusan manusia ini lama - lama membuat saya yakin saya anak IPA-IPAan. Masuk IPA karena keadaan. Namun, karena saya sudah berenang, biarkan saya tenggelam. Saya akan menunggu dengan sabar hari ketika saya akan dinyatakan lulus SMA yang menandakan intensitas saya bertemu si ilmu-yang-bikin-saya-makan-ati akan berkurang drastis. Setidaknya sampai saya membaca pernyataan 'Selamat Anda Diterima di Fakultas .. Jurusan .."
Icha, teman sekaligus guru privat yang mengajari secara cuma - cuma berpendapat, kelemahan saya adalah ketidaktenangan saya kala mengerjakan soal yang berujung pada ketidaktelitian menjadi masalah utama. Dari ketidaktelitian itulah menyebabkan angka 70 menjadi angka maksimal yang sampai menjalani tahun ke-empat di bangku sekolah menegah atas tidak menunjukkan tanda - tanda akan merangkak.
Kini yang bisa lakukan selain belajar lebih keras lagi, adalah menerima kenyataan apa adanya. Hipotesi saya, memang matematika bukan bidang saya. Bukan rezeki saya untuk menjadi ahli didalamnya. Yang harus saya persiapkan adalah mental dan emosi saya. Agar tidak sedih berlebihan apabila Pak Hamzah, Bu Fani maupun Pak Imam, memutuskan memberi nilai rapor semester lima dengan nilai yang tidak sesuai dengan harapan saya.
Untungnya, untuk dapat suami saya tidak harus tahu bagaimana caranya menghitung volume benda padat dalam waktu kurang dari dua menit. Alhamdulillah, untuk meyakinkan calon mertua kalau saya layak jadi pendamping hidup putranya, saya tidak perlu repot-repot bawa transkirp nilai rapor saya. Syukur sekali, untuk jadi ibu yang baik, saya tidak harus berurusan dengan aljebra, logaritma, dan turunannya. :D
Sabtu, 16 Juli 2011
KEMBALI
Ya, saya sudah tiba di Indonesia. Tujuh hari yang lalu menjadi hari terakhir saya di kota Roma. Meninggalkan udara eropa, pasta, pizza, keluarga, sekolah saya, AFS Italia dan memori-memori kejadian yang telah berlangsung selama 11 bulan. Berat, sangat. Menjadi orang yang mudah tersentuh untuk pertama kalinya adalah ketika tiga minggu sebelum hari kepulangan air mata saya rajin mengalir. Setiap saya ceritakan pengalaman saya di Roma, Verona dan berbagai kota lainnya tutur kata saya selalu disendat kucuran air yang keluar dari mata saya. Saya paham, titik pelepasan pasti akan datang di akhir program. Saya tau saya akan kembali ke tanah ibu pertiwi. Saya tahu itu. Hanya saja memang detik-detik terakhir selalu berkaitan dengan haru biru.
Setelah rute Roma - Dubai - Jakarta saya tempuh bersama dua teman lainnya yang juga AFSers, saya mendarat di lapangan udara bandar udara Soekarno - Hatta. Dan saya masih tidak percaya. Bagai belum bangun dari mimpi indah yang panjang. Saya pulang. Saya kembali ke negara asal saya, Indonesia. Aneh, aneh sekali. Tidak ada satupun yang berkomunikasi bahasa italia, tak seorangpun menggerakkan tangannya ketika berbicara, bukan uscita melainkan pintu keluar, bukan wc kering namun wc becek, bukan rambut pirang tapi kulit coklat matang.
Untung ketika saya keluar dari tempat pengambilan bagasi dan bertemu keluarga saya, saya tidak lupa salim kepada bapak ibu saya-kebiasaan yang tidak pernah saya lakukan selama di sana. Saya masih ingat untuk menyebut 'kak' di depan nama seseorang yang lebih tua-karena biasanya saya panggil mereka yang lebih tua cukup dengan namanya. Ya, budaya hierarki untungnya masih melekat di alam bawah sadar saya. Setelah hampir 17 jam perjalanan, kami yang terakhir tiba di Indonesia langsung dibawa oleh kakak volunteers ke lokasi reorientasi yang akan diselenggarakan keesokan pagi. Memang tujuan dari reorientasi ini mempersiapkan kami yang baru saja pulang setelah mencari pengalaman di negeri orang untuk readaptasi di lingkungan sendiri;lingkungan keluarga, sekolah, dan sekitar. Usai materi tentang refleksi diri, penjernihan nilai, visi dan misi pribadi dan untuk Indonesia, kepemimipinan, kegalauan saya dan 19 teman lainnya saya rasa terpecahkan.
Everything changes itu benar adanya. Sarapan pagi saya yang biasanya semangkok sereal campur susu di hari pertama berganti menjadi sepiring nasi dan telur goreng pedas. Reaksi perut saya? Marah dia. Udara yang gerah kadang membuat frekuensi mengeluh 'aduh, panasnya' bertambah. Teman-teman yang dulunya satu angkatan dengan saya kini telah melangkahkan kaki ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
Namun banyak hal juga yang tidak berubah. Pengamen jalanan, pedagang asongan, penjual kaki lima, masih bertebaran di setiap sudut kota Jakarta. Demonstrasi di depan gedung DPR juga masih ada. Media yang tak usai mengkritik dan mengabarkan berita negatif juga masih bermunculan di layar televisi yang di tonton ratusan juta rakyat yang mengaku butuh informasi terkini. Korupsi juga rupanya semakin menjadi-jadi. Bahkan kini yang terbaru saya dengar kasus Nazaruddin dan anak SD yang menangis meraung-raung karena diminta 'membantu' temannya mengerjakan soal ujian.
What the hell is going on? Apa yang salah dengan negara saya? Pemerintahnya? Dewan perwakilan rakyatnya? Gurunya? Pedagangnya? Akuntannya? Hakimnya? Polisinya? Rakyat jelatanya?
Saya dibuat heran oleh beberapa hal.
1. Kita belajar enam tahun di bangku sekolah dasar tentang pentingnya menjunjung tinggi nilai kejujuran dan menjadi orang yang bertanggung jawab di mata pelajaran PPKn. Kini nyatanya banyak orang yang amoral. Para politisi ramai-ramai mencuri rupiah milik rakyat, para hakim membuat yang salah menjadi benar yang benar menjadi salah. Para pendidiknya meminta muridnya berbuat curang ketika ujian. Anggaran pendidikan dinaikkan tapi kualitas guru, fasilitas sekolah dan jumlah pelajar yang bisa melanjutkan sekolahnya tidak ada perubahan yang signifikan. Uang yang dianggarkan malah digunakan untuk studi banding yang tidak membawa dampak langsung kepada para peserta didik.
2. Apa yang salah dengan otak para kuli tinta? Mengapa yang di beritakan mayoritas merupakan berita - berita yang negatif? Tak sadarkah mereka jika televisi, koran, dan majalah adalah media berpengaruh pada pembentukan cara berpikir masyarakat? Pantas saja di negara ini energi negatif mengalahkan arus positif yang coba di alirkan oleh para motivator, pemuda-pemudi berprestasi dan juga oleh Kick Andy!
3. Teori Reources Curse menurut saya benar berlaku di negara yang dulunya masih layak disebut zamrud khatulistiwa. Teori ini menyebutkan bahwa sebuah paradoks di mana sebuah negara dengan kekayaan alamnya yang melimpah justru kalah maju dengan negara yang sedikit sumber daya alamnya. Contoh? Lihat tetangga sebelah. Singapura yang tidak memiliki apa-apa sukses menjadi negara maju di Asia Tenggara. Kita?
Salah satu keinginan saya untuk merubah keadaan dipupuskan oleh realita mengenai banyaknya benang kusut di bangsa ini. Namun harapan saya akan Indonesia selalu meletup kembali ketika saya berada di lingkungan volunteers Bina Antarbudaya a.k.a AFS Indonesia yang percaya akan adanya pemimpin masa depan yang cerdas, insipratif-bukan hanya sekedar berkharisma tapi tidak ada isinya- dan berbudi luhur. Pemimpin - pemimpin yang berlatar belakang dari berbagai profesi yang datang dari genarasi pengubah bangsa, bukan penerus bangsa!Saya percaya, setiap masalah ada solusinya. Di kitab suci sayapun di sebutkan bahwa disetiap kesulitan pasti ada kemudahan. Habis gelap, terbitlah terang.
Hanya saja, mari kita renungkan sejenak. Rakyat Indonesia jumlahnya besar, kawan! 230.000.000 manusia berdiam di Indonesia. Dan perubahan akan sulit digerakkan apabilan centrumnya hanya berada di kota-kota besar. Ingatkan kalian tentang Kebangkitan Nasional yang diawali dengan berdirinya organisasi - organisasi kepemudaan di daerah? Mengapa tidak kita coba lagi cara yang sama seperti 100 tahun yang lalu? Membangkitkan lagi kekuatan Indonesia secara merata yang diawali dengan berdirinya pemimpin-pemimpin inovatif di daerah. Bukankah bergotongroyong dalam kebaikan itu akan mendorong sebuah perubahan datang lebih cepat?
Saran saya, perubahan terkecil yang bisa dilakukan adalah mengoreksi diri sendiri. Sudahkan kita menjadi orang yang prinsipil? Bukan saklek. Melainkan menjadi orang yang berpegang teguh pada nilai-nilai yang luhur. Jujur, disiplin, kerja keras, bertanggung jawab, rendah hati dll. Sudahkah kita sebagai pelajar mengerjakan ujian tanpa contekan? Sudahkan kita sebagai pekerja kantoran tiba di gedung kantor tepat waktu? Sudahkah kita sebagai seorang pedangang mencari cara untuk meningkatkan omzetnya? Sudahkah kita sebagai orang kaya bertanggung jawab secara sosial menyedekahkan sebagian kekayaan kita kepada yang kurang beruntung?
Saya akan sungguh berbangga diri menjadi seorang warga negara Indonesia apabila kita berhasil menjadi daya tarik dunia seperti Cina.
Tapi saya tidak bisa bergerak sendirian, Pembaca. Negara ini perlu ribuan produser televisi acara-acara seperti Kick Andy yang mengabarkan potensi-potensi anak negeri, tanah kita membutuhkan jutaan Anies Baswedan untuk menyelamatkan arah pendidikan, negeri ini harus dibanjiri Habibie-Habibie baru untuk bidang teknologi. Asal tidak ada lagi kepentingan pribadi yang memiskinkan rakyat kecil (baca: korupsi) asal tidak ada lagi saling menyalahkan, asal hukum ditegakkan, janji-janji kampanye politisi di penuhi, saya yakin Indonesia akan menjadi headline dimana-mana karena keberhasilannya.
Dengan kerendahan hati, sebarkan tulisan ini apabila Anda setuju dengan buah pemikiran saya. Saya tidak bisa bergerak sendirian.
*Saya cantumkan pula beberapa buku bacaan, website, blog dan segala sesuatunya yang mampu mendongkrak semangat kita untuk merubah kondisi saat ini. Silahkan klik link-link yang sudah saya tuliskan.
1. Indonesia Mengajar milik Anies Baswedan
2. Kick Andy yang dibawakan oleh Andi F. Noya
3. Blog pribadi Iman Usman, pendiri Indonesian Future Leaders
4. Iwan Santosa, pengarang buku 9 summer 10 autumns
5. Ippho Santosa, penulis buku motivasi 7 Keajaiban Rezeki
"Solusi ada banyak, tetapi kemauan dan pengorbanan adalah intinya"
Jakarta, 7 Juli 2011, 2:27 a.m.
Setelah rute Roma - Dubai - Jakarta saya tempuh bersama dua teman lainnya yang juga AFSers, saya mendarat di lapangan udara bandar udara Soekarno - Hatta. Dan saya masih tidak percaya. Bagai belum bangun dari mimpi indah yang panjang. Saya pulang. Saya kembali ke negara asal saya, Indonesia. Aneh, aneh sekali. Tidak ada satupun yang berkomunikasi bahasa italia, tak seorangpun menggerakkan tangannya ketika berbicara, bukan uscita melainkan pintu keluar, bukan wc kering namun wc becek, bukan rambut pirang tapi kulit coklat matang.
Untung ketika saya keluar dari tempat pengambilan bagasi dan bertemu keluarga saya, saya tidak lupa salim kepada bapak ibu saya-kebiasaan yang tidak pernah saya lakukan selama di sana. Saya masih ingat untuk menyebut 'kak' di depan nama seseorang yang lebih tua-karena biasanya saya panggil mereka yang lebih tua cukup dengan namanya. Ya, budaya hierarki untungnya masih melekat di alam bawah sadar saya. Setelah hampir 17 jam perjalanan, kami yang terakhir tiba di Indonesia langsung dibawa oleh kakak volunteers ke lokasi reorientasi yang akan diselenggarakan keesokan pagi. Memang tujuan dari reorientasi ini mempersiapkan kami yang baru saja pulang setelah mencari pengalaman di negeri orang untuk readaptasi di lingkungan sendiri;lingkungan keluarga, sekolah, dan sekitar. Usai materi tentang refleksi diri, penjernihan nilai, visi dan misi pribadi dan untuk Indonesia, kepemimipinan, kegalauan saya dan 19 teman lainnya saya rasa terpecahkan.
Everything changes itu benar adanya. Sarapan pagi saya yang biasanya semangkok sereal campur susu di hari pertama berganti menjadi sepiring nasi dan telur goreng pedas. Reaksi perut saya? Marah dia. Udara yang gerah kadang membuat frekuensi mengeluh 'aduh, panasnya' bertambah. Teman-teman yang dulunya satu angkatan dengan saya kini telah melangkahkan kaki ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
Namun banyak hal juga yang tidak berubah. Pengamen jalanan, pedagang asongan, penjual kaki lima, masih bertebaran di setiap sudut kota Jakarta. Demonstrasi di depan gedung DPR juga masih ada. Media yang tak usai mengkritik dan mengabarkan berita negatif juga masih bermunculan di layar televisi yang di tonton ratusan juta rakyat yang mengaku butuh informasi terkini. Korupsi juga rupanya semakin menjadi-jadi. Bahkan kini yang terbaru saya dengar kasus Nazaruddin dan anak SD yang menangis meraung-raung karena diminta 'membantu' temannya mengerjakan soal ujian.
What the hell is going on? Apa yang salah dengan negara saya? Pemerintahnya? Dewan perwakilan rakyatnya? Gurunya? Pedagangnya? Akuntannya? Hakimnya? Polisinya? Rakyat jelatanya?
Saya dibuat heran oleh beberapa hal.
1. Kita belajar enam tahun di bangku sekolah dasar tentang pentingnya menjunjung tinggi nilai kejujuran dan menjadi orang yang bertanggung jawab di mata pelajaran PPKn. Kini nyatanya banyak orang yang amoral. Para politisi ramai-ramai mencuri rupiah milik rakyat, para hakim membuat yang salah menjadi benar yang benar menjadi salah. Para pendidiknya meminta muridnya berbuat curang ketika ujian. Anggaran pendidikan dinaikkan tapi kualitas guru, fasilitas sekolah dan jumlah pelajar yang bisa melanjutkan sekolahnya tidak ada perubahan yang signifikan. Uang yang dianggarkan malah digunakan untuk studi banding yang tidak membawa dampak langsung kepada para peserta didik.
2. Apa yang salah dengan otak para kuli tinta? Mengapa yang di beritakan mayoritas merupakan berita - berita yang negatif? Tak sadarkah mereka jika televisi, koran, dan majalah adalah media berpengaruh pada pembentukan cara berpikir masyarakat? Pantas saja di negara ini energi negatif mengalahkan arus positif yang coba di alirkan oleh para motivator, pemuda-pemudi berprestasi dan juga oleh Kick Andy!
3. Teori Reources Curse menurut saya benar berlaku di negara yang dulunya masih layak disebut zamrud khatulistiwa. Teori ini menyebutkan bahwa sebuah paradoks di mana sebuah negara dengan kekayaan alamnya yang melimpah justru kalah maju dengan negara yang sedikit sumber daya alamnya. Contoh? Lihat tetangga sebelah. Singapura yang tidak memiliki apa-apa sukses menjadi negara maju di Asia Tenggara. Kita?
Salah satu keinginan saya untuk merubah keadaan dipupuskan oleh realita mengenai banyaknya benang kusut di bangsa ini. Namun harapan saya akan Indonesia selalu meletup kembali ketika saya berada di lingkungan volunteers Bina Antarbudaya a.k.a AFS Indonesia yang percaya akan adanya pemimpin masa depan yang cerdas, insipratif-bukan hanya sekedar berkharisma tapi tidak ada isinya- dan berbudi luhur. Pemimpin - pemimpin yang berlatar belakang dari berbagai profesi yang datang dari genarasi pengubah bangsa, bukan penerus bangsa!Saya percaya, setiap masalah ada solusinya. Di kitab suci sayapun di sebutkan bahwa disetiap kesulitan pasti ada kemudahan. Habis gelap, terbitlah terang.
Hanya saja, mari kita renungkan sejenak. Rakyat Indonesia jumlahnya besar, kawan! 230.000.000 manusia berdiam di Indonesia. Dan perubahan akan sulit digerakkan apabilan centrumnya hanya berada di kota-kota besar. Ingatkan kalian tentang Kebangkitan Nasional yang diawali dengan berdirinya organisasi - organisasi kepemudaan di daerah? Mengapa tidak kita coba lagi cara yang sama seperti 100 tahun yang lalu? Membangkitkan lagi kekuatan Indonesia secara merata yang diawali dengan berdirinya pemimpin-pemimpin inovatif di daerah. Bukankah bergotongroyong dalam kebaikan itu akan mendorong sebuah perubahan datang lebih cepat?
Saran saya, perubahan terkecil yang bisa dilakukan adalah mengoreksi diri sendiri. Sudahkan kita menjadi orang yang prinsipil? Bukan saklek. Melainkan menjadi orang yang berpegang teguh pada nilai-nilai yang luhur. Jujur, disiplin, kerja keras, bertanggung jawab, rendah hati dll. Sudahkah kita sebagai pelajar mengerjakan ujian tanpa contekan? Sudahkan kita sebagai pekerja kantoran tiba di gedung kantor tepat waktu? Sudahkah kita sebagai seorang pedangang mencari cara untuk meningkatkan omzetnya? Sudahkah kita sebagai orang kaya bertanggung jawab secara sosial menyedekahkan sebagian kekayaan kita kepada yang kurang beruntung?
Saya akan sungguh berbangga diri menjadi seorang warga negara Indonesia apabila kita berhasil menjadi daya tarik dunia seperti Cina.
Tapi saya tidak bisa bergerak sendirian, Pembaca. Negara ini perlu ribuan produser televisi acara-acara seperti Kick Andy yang mengabarkan potensi-potensi anak negeri, tanah kita membutuhkan jutaan Anies Baswedan untuk menyelamatkan arah pendidikan, negeri ini harus dibanjiri Habibie-Habibie baru untuk bidang teknologi. Asal tidak ada lagi kepentingan pribadi yang memiskinkan rakyat kecil (baca: korupsi) asal tidak ada lagi saling menyalahkan, asal hukum ditegakkan, janji-janji kampanye politisi di penuhi, saya yakin Indonesia akan menjadi headline dimana-mana karena keberhasilannya.
Dengan kerendahan hati, sebarkan tulisan ini apabila Anda setuju dengan buah pemikiran saya. Saya tidak bisa bergerak sendirian.
*Saya cantumkan pula beberapa buku bacaan, website, blog dan segala sesuatunya yang mampu mendongkrak semangat kita untuk merubah kondisi saat ini. Silahkan klik link-link yang sudah saya tuliskan.
1. Indonesia Mengajar milik Anies Baswedan
2. Kick Andy yang dibawakan oleh Andi F. Noya
3. Blog pribadi Iman Usman, pendiri Indonesian Future Leaders
4. Iwan Santosa, pengarang buku 9 summer 10 autumns
5. Ippho Santosa, penulis buku motivasi 7 Keajaiban Rezeki
"Solusi ada banyak, tetapi kemauan dan pengorbanan adalah intinya"
Jakarta, 7 Juli 2011, 2:27 a.m.
Langganan:
Entri (Atom)